Jangan Anggap Sepele Gejala Kekurangan Enzim Pencernaan Ini!

jangan-anggap-sepele-gejala-kekurangan-enzim-pencernaan-ini

Perut kembung dan begah sehabis makan adalah kejadian yang sangat wajar. Namun, kamu tentu akan sangat terganggu dikala rasa begah itu terlalu sering muncul, padahal porsi makan sudah dikurangi. Jika kamu tidak memiliki riwayat maag, bisa jadi rasa begah dan kembung tersebut disebabkan akibat kekurangan enzim pencernaan, yang jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, lho!


Saat ini, masih banyak masyarakat Indonesia yang kurang aware dengan peran enzim pencernaan. Bukan hanya maag, gangguan enzim pencernaan juga bisa dialami oleh siapapun, mulai dari anak-anak hingga dewasa, terutama pada lansia. Kekurangan enzim pencernaan ternyata berdampak sangat signifikan bagi kesehatan dan fungsi organ pencernaan, lho. Biar lebih paham, mari kita simak penjelasannya di bawah ini, teman Polycrol!


Apakah Peran Enzim Pencernaan serta Berbagai Jenisnya?


Enzim adalah suatu tipe protein yang dapat ditemukan pada sel-sel tubuh. Pada dasarnya, enzim pencernaan bekerja sebagai katalis alias membantu mempercepat proses pemecahan bahan-bahan makanan yang masuk ke perut melalui reaksi-reaksi kimia, agar dapat diserap nutrisinya oleh tubuh kita. Enzim pencernaan juga dapat berperan meningkatkan bioavailabilitas nutrisi agar lebih optimal masuk ke aliran darah kita.


Enzim pencernaan dihasilkan secara alami oleh tubuh kita, tepatnya di pankreas, lambung, usus, dan mulut (kelenjar saliva). Enzim memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda-beda, serta sensitif terhadap kondisi lingkungannya, seperti suhu dan tingkat keasaman. Maka dari itu, tiap organ memiliki jenis enzim yang berbeda-beda pula. Berikut ini adalah beberapa jenis enzim utama yang berperan penting bagi sistem pencernaan kita:


1. Amilase, berfungsi memecah pati dan karbohidrat menjadi gula.

2. Protease, berfungsi memecah protein menjadi asam amino.

3. Lipase, berfungsi memecah lipid (minyak dan lemak) menjadi asam lemak dan gliserol.


Benarkah Kekerungan Enzim Pencernaan Dapat Menyebabkan Komplikasi Serius?


Ada kalanya tubuh kita tidak dapat menghasilkan atau mengeluarkan enzim ke sistem pencernaan. Hal ini biasanya terjadi pada lansia yang memang sudah mengalami penurunan fungsi organ, serta orang-orang dengan kondisi pencernaan tertentu. Kurangnya enzim pencernaan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor internal, seperti gangguan fungsi pankreas eksokrin dan bawaan genetik, serta komplikasi dari gangguan-gangguan kesehatan lain, seperti diabetes, adanya batu empedu, infeksi pencernaan kronis, dan hipoglikemia. Faktor eksternal seperti gaya hidup yang tidak sehat, stress, kekurangan vitamin dan mineral esensial, serta kecanduan alkohol, juga sangat berpengaruh pada produksi enzim pencernaan kita, teman Polycrol.


Ketika jumlah enzim tidak mencukupi di sistem pencernaan, kita akan mengalami sejumlah gangguan yang berkaitan dengan tidak dapat dicernanya makanan menjadi nutrisi. Makanan yang tidak dipecah secara sempurna akan memaksa organ kita untuk bekerja lebih berat, dengan berkontraksi bahkan mengeluarkan asam lambung lebih banyak. Selain itu, potensi bakteri di lambung dan usus mencerna sisa-sisa makanan juga akan meningkatkan produksi gas di perut. Inilah cikal bakal terasanya perut begah, kembung, dan mual. Jika sudah berlangsung cukup lama dan semakin memburuk, gejala-gejala lain juga akan bermunculan, di antaranya adalah,

  • Nyeri pada abdomen (perut)

  • Irritable bowel syndrome

  • Diare dan Konstipasi

  • Kekurangan energi akibat malabsorbsi nutrisi

  • Feses mengandung makanan yang tidak dicerna dan mengapung


Kekurangan enzim pencernaan tentu dapat memberikan dampak yang sangat tidak diharapkan. Penyakit-penyakit yang disebabkan akibat gangguan enzim dapat diklasifikasikan menjadi, penyakit yang berhubungan dengan bawaan genetik, dan penyakit yang berkembang akibat gaya hidup. Inilah 7 penyakit serius akibat defisiensi enzim pencernaan yang tidak boleh dianggap sepele, ya!


1. Intoleransi Makanan


Gangguan ini dapat terjadi baik dari bawaan genetik maupun gaya hidup yang tidak sehat. Intoleransi makanan terjadi suatu senyawa kimia dari bahan makanan tertentu, seperti laktosa dan gluten, tidak terpecah dengan sempurna. Molekul ini akan lebih sulit diabsorbsi, karena ukurannya yang tidak dapat menembus barier antara sel-sel usus dengan pembuluh darah.


Molekul-molekul yang tidak dapat diserap akan berdiam di perut untuk dicerna lebih lanjut, baik dengan bantuan asam lambung maupun bakteri pencernaan. Beberapa jenis molekul kimia juga dapat bersifat menyerap air dari usus, sehingga akan membanjiri lambung dan usus. Hal-hal inilah yang kemudian mencetuskan gejala perut kembung, nyeri, konstipasi, ataupun diare.


2. Malnutrisi


Seperti yang kita ketahui, enzim pencernaan berperan sangat penting untuk memecah sumber nutrisi yang selanjutnya akan diserap dan dimetabolisme menjadi energi, otot, dan lemak bagi tubuh. Ketika fungsi enzim ini menghilang akibat kekurangan jumlahnya, maka nutrisi tidak akan masuk dengan optimal ke dalam tubuh. Jika hal ini terjadi terus-menerus, penderitanya akan mengalami penurunan berat badan, lemas, dan mudah terserang penyakit lainnya.


3. Penyakit Fabry


Penyakit ini merupakan bawaan dari gen kromosom X yang menyebabkan mutasi pada gen yang berfungsi membentuk enzim alfa-galaktosidase A. Fabry disease lebih berpotensi menyerang anak laki-laki, dan efek dalam jangka panjang akan menyebabkan penumpukan globotriaosylceramide (GL-3) yang tidak dapat dicerna. Penumpukan molekul ini akan merusak sel dinding pembuluh darah di kulit, jantung, paru-paru, serta organ penting lainnya.


4. Maple Syrup Urine Disease


Penyakit ini adalah suatu gangguan metabolik bawaan yang membuat penderitanya tidak dapat memecah asam amino  leusin, isoleusin, dan valin secara sempurna, sehingga akan membentuk suatu hasil samping bernama asam keto atau keto acid. Hal ini disebabkan akibat kekurangan enzim BCKDC (branched-chain alpha-keto acid dehydrogenase complex). Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menyebabkan kebutaan, kerusakan sistem saraf berat, hingga kematian. Ciri khas penyakit ini adalah bau urin yang menyerupai aroma sirup maple.


5. Fenilketonuria


Fenilketonuria terjadi akibat kerusakan atau kehilangan gen pembentuk phenylalanine hydroxylase (PAH). Enzim ini berfungsi merombak fenilalanin (biasa terdapat pada sumber makanan protein dan pemanis buatan) menjadi tirosin, yang selanjutnya diperlukan untuk membentuk senyawa neurotransmiter seperti epinefrin, norepinefrin, dan dopamin. Inilah alasannya, penumpukan fenilalanin dalam tubuh akan menyebabkan penderitanya mengalami keterbelakangan mental. Selain itu, fenilalanin juga akan dikeluarkan melalui urin dan keringat, sehingga penderitanya akan berbau pesing yang sangat menyengat. Hal ini tentu sangat berdampak bagi kehidupan anak, terutama terkait emosional dan kepercayaan dirinya.


Nah, selain penyakit-penyakit di atas, kekurangan enzim dalam jangka waktu panjang juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih luas lagi, di antaranya adalah:

  • Gangguan imunitas (alergi, imunitas melemah, hingga autoimun seperti celiac disease)

  • Rasa cemas berlebih dan depresi

  • Premenstrual Syndrome

  • Ulcerative colitis

  • Crohn’s disease



Apakah Kekurangan Enzim Dapat Diobati?


Defisiensi enzim yang disebabkan gangguan metabolik seperti cacat genetik, dan infeksi organ penghasil enzim seperti pankreatitis memang tidak dapat disembuhkan. Namun, upaya penanganan tetap harus dilakukan agar tidak menyebabkan komplikasi lebih lanjut. Hal-hal yang perlu dilakukan di antaranya:


  1. Memenuhi kebutuhan enzim melalui suplemen enzim khusus yang dianjurkan dokter

  2. Menerapkan diet atau pola makan yang dianjurkan dokter, serta menghindari konsumsi makanan yang tidak dapat dicerna. Misalnya, jika kamu mengalami intoleransi laktosa maka jangan mengonsumsi produk susu yang mengandung laktosa.

  3. Melakukan detoksifikasi darah dalam rangka menghilangkan senyawa-senyawa racun akibat akibat gangguan metabolisme


Jika defisiensi enzim memang diakibatkan gaya hidup yang kurang tepat, gangguan ini tentu dapat dicegah dan diperbaiki. Kamu bisa melakukan restorasi dengan mengonsumsi suplemen, atau biar lebih alami dengan memakan buah-buahan, sayuran, serta sumber probiotik yang memiliki enzim alami, seperti pisang, nanas, dan pepaya. Dan jangan lupa untuk selingi dengan olahraga atau meditasi, serta jauhkan diri dari kebiasaan meminum alkohol dan merokok, agar organ-organ tubuh kamu kembali berfungsi dengan normal ya, teman Polycrol!



Referensi:

- Journal titled “Digestive Enzyme Supplementation in Gastrointestinal Diseases” by Gianluca Ianiro, Silvia Pecere, Valentina Giorgio, et al. Published by Current Drug Metabolism Journal (Vol 17), on Feb 2016.

- Dilansir pada 21-22 Juli 2020: Natural Medicine Journal, Healthline, ClinicalEducation.org, Enzyscience.com, Alodokter



Bagikan artikel ini:

0 Komentar

Berikan Komentar

Login