Diet Keto Aman Gak Sih Untuk Penderita Maag?

diet-keto-aman-gak-sih-untuk-penderita-maag
Dalam dekade terakhir, kesadaran akan kesehatan terus meningkat, terutama di kalangan millenials dan generasi Z. Tubuh fit dan ideal tentu menjadi salah satu goal utama generasi produktif saat ini. Tak heran, berbagai metode diet dan fitness terus berkembang dan semakin diminati oleh para health enthusiast. Salah satu metode diet yang paling populer beberapa tahun ini adalah diet ketogenik. Metode diet ini bahkan sudah banyak direview dan direkomendasikan oleh para influencer dan public figure, serta telah banyak pula membuahkan kisah sukses yang diakui para ahli kesehatan.


Apa Itu Diet Ketogenik?


Diet ketogenik, atau disingkat sebagai diet keto, memiliki metode yang cukup unik dalam menjaga berat badan. Diet keto didasarkan pada proses ketosis untuk memperoleh energi dan membakar lemak. Secara spesifik, diet ini dilakukan dengan mengurangi jumlah asupan karbohidrat secara sangat signifikan, dan digantikan dengan peningkatan jumlah asupan protein dan lemak baik. Melalui metode ketogenic diet ini, tubuh kita dibuat beradaptasi dengan perubahan proses metabolisme sumber nutrisi menjadi energi.


Pada umumnya, tubuh kita menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi. Namun, karena pada diet keto asupan karbohidrat yang tubuh kita peroleh menjadi sangat terbatas, maka tubuh akan mencari sumber lain untuk dirombak menjadi energi. Lemak yang tersimpan di tubuh maupun yang berasal dari asupan makanan kita merupakan sumber alternatif yang paling efisien untuk diubah menjadi energi, teman Polycrol. Dalam menjalani diet ketogenik, kamu dianjurkan untuk mengonsumsi lebih banyak daging merah, ikan laut, telur, produk olahan susu, kacang-kacangan, buah alpukat, dan dilengkapi dengan sayuran hijau. Kamu juga perlu benar-benar menghilangkan sumber karbohidrat apapun seperti, nasi, kentang, ataupun buah-buahan manis, dari menu makan sehari-hari.


Apabila dilakukan dengan tepat dan teratur, tubuh kita akan terbiasa menggunakan lemak tubuh sebagai sumber energi. Sehingga, penimbunan lemak di bawah kulit dan otot pun dapat dicegah. Nah, metode unik inilah yang menjadi pencetus popularitas diet keto di kalangan teman-teman yang sedang mengejar berat badan ideal, terutama yang ingin menghilangkan lemak berlebih pada tubuh.  



Apakah Diet Keto Aman dan Dianjurkan Untuk Penderita Maag?


Pada dasarnya, setiap orang memiliki kondisi metabolisme yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang, diet keto mungkin sangat aman serta dapat menghasilkan perbaikan yang signifikan bagi kesehatan penggunanya. Dikutip dari Healthline, diet ketogenik bahkan dapat membantu melawan berbagai penyakit seperti obesitas, diabetes, kanker, epilepsi, dan alzheimer.


Melalui metode diet keto, kadar keton akan meningkat, kadar gula darah akan menurun, serta sensitivitas insulin akan membaik. Dan yang pasti, lemak di tubuh akan terbakar lebih efektif, teman Polycrol. Oleh karena itulah, diet keto sering direkomendasikan bagi penderita obesitas dan diabetes. Suatu studi bahkan menunjukan bahwa, seseorang yang menjalani diet keto dapat menurunkan berat badannya hingga 2.2 kali lebih banyak dibandingkan dengan yang menggunakan metode diet ketat kalori dan rendah lemak. Kadar trigliserida dan high density lipoprotein (HDL) yang baik bagi kesehatan jantung pun akan meningkat pula.


Diet keto memang dilaporkan sudah banyak berhasil dan aman untuk diterapkan. Kendati demikian, metode diet ini masih perlu dievaluasi lebih dalam, karena tidak bisa diterapkan begitu saja pada orang-orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Bagi penderita maag, GERD (gastroesophageal reflux disease), gastritis, atau gangguan lambung lainnya, diet keto mungkin justru akan membahayakan tubuh. Oleh karena itu, konsultasi yang komprehensif dengan nutrisionis dan ahli kesehatan tentu diperlukan, agar diet yang dijalani pun tepat dan berhasil.



Apa Saja Efek Samping Diet Keto yang Perlu Diwaspadai?


Pada dasarnya, perubahan diet atau pola makan harian memang cenderung akan berdampak pada gangguan pencernaan ringan, seperti sakit perut dan dispepsia. Hal ini tentu wajar jika terjadi di beberapa hari di awal berjalannya diet. Terlebih, jika kita memiliki riwayat gangguan pencernaan tertentu, perut kita pasti bereaksi sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan kondisi pencernaan yang baru.


Terjadinya keto flu di awal masa penerapan diet


Pada awal berjalannya diet ketogenik, para keto warrior (sebutan untuk orang-orang yang menerapkan diet keto) biasanya akan merasakan suatu kondisi yang biasa disebut sebagai keto flu. Keto flu ini merupakan serangkaian gejala atau reaksi tubuh yang kita rasakan saat pertama kali beradaptasi dengan penurunan drastis asupan karbohidrat. Ibaratnya, dapat kita sebut bahwa tubuh ‘kaget’ akan tiadanya jumlah karbohidrat yang cukup untuk membentuk energi. Dalam hitungan hari hingga minggu, tubuh akan merasakan gejala seperti mual dan muntah, konstipasi, lemas dan linglung, diare, sakit kepala, diare, gelisah, nyeri otot, sulit tidur, hingga ngidam makanan yang manis-manis, teman Polycrol.


Asupan tinggi lemak dapat mencetuskan refluk asam lambung dan kembung


Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa konsumsi makanan yang tinggi akan lemak secara frekuentif akan meningkatkan risiko refluk asam lambung. Hal ini disebabkan karena lemak dapat membuat lower esophageal sphincter (LES) atau katup sfingter bawah (yang memisahkan antara bagian lambung dan kerongkongan) melemah. Otot katup yang lemah selanjutkan tidak dapat menahan naiknya cairan lambung ke kerongkongan, yang kemudian akan menyebabkan gejala GERD. Lemak juga cenderung lebih lama untuk dicerna oleh lambung, sehingga perut terus terasa penuh dan kembung.



Gangguan pencernaan muncul lebih sering akibat kekurangan serat


Sumber karbohidrat seperti whole grains, kentang, umbi-umbian, dan buah-buahan manis merupakan sumber serat terbaik. Ketika kita menjalani diet keto, sumber karbohidrat tersebut tentu akan dipotong dari menu harian kita. Alhasil, kita akan lebih sulit mencukupi kebutuhan serat. Kurangnya serat tentu akan menyebabkan mikrobiota baik di sistem pencernaan berkurang, terjadinya konstipasi, dan rasa tidak nyaman di perut. Sebagai pengganti serat karbohidrat, pengguna diet keto biasanya dianjurkan untuk mengonsumsi sumber serat yang keto-friendly seperti, daging kelapa, brokoli, kembang kol, atau sayuran hijau.


Gangguan hati dan terjadinya ketoasidosis yang dapat berakibat fatal


Menurut Noah Kover, seorang profesor biologi di Pellissippi State Community College, diet keto dapat membuat organ-organ tubuh penggunanya (terutama hati) bekerja lebih berat untuk merombak lemak atau protein secara terus menerus, untuk memperoleh sumber energi. Hasil samping nitrogenik dari metabolisme lemak dan protein yang menumpuk juga akan menjadi masalah. 


Di samping itu, ketika menjalani diet ketogenik, kondisi tubuh yang terus mengalami ketosis tanpa henti akan memiliki risiko terhadap ketoasidosis. Ketoasidosis adalah kondisi abnormal dari ketosis, yaitu ketika tubuh kita mengandung terlalu banyak keton, atau dapat kita sebut juga sebagai keracunan asam keton. Hal ini memang biasanya lebih sering terjadi pada penderita diabetes melitus tipe 1. Kendati demikian, para keto warrior juga dianjurkan untuk tetap waspada akan risiko kondisi ini. Berikut ini adalah gejala ketoasidosis yang perlu mendapatkan penanganan medis sesegera mungkin:

- Sering buang air kecil

- Merasa haus atau mulut terasa kering

- Mual, muntah, dan nyeri perut

- Sesak napas

- Lemas, linglung, dan kelelahan

- Napas beraroma seperti buah



Kapan Waktu Terbaik Menerapkan Diet?


Penerapan diet untuk menjaga tubuh tetap fit tentu merupakan langkah awal perbaikan gaya hidup yang sangat dianjurkan. Ceritakan rencana dietmu pada orang-orang terdekat dan ahli kesehatan agar kamu mendapatkan rekomendasi jenis diet yang terbaik, dan mulailah sesegera mungkin, ya! Jika kamu masih belum yakin untuk mencoba metode diet tertentu, cobalah mulai dengan perbaikan gaya hidup yang basic seperti, mengurangi makanan instan, perbanyak konsumsi sayur dan buah, menghindari minuman beralkohol, serta tidur yang cukup dan teratur. Selamat mencoba, ya!



Referensi:

Diakses pada 22 Agustus 2020:  Healthline, Mayo Clinic, American Gastroenterological Association, houstonheartburn.com, Heath Central, ketogenic-diet-resource.com



Bagikan artikel ini:

0 Komentar

Berikan Komentar

Login